Bahas Kratom di Putussibau Libatkan Lembaga Dari Amerika Serikat


DPRD Kabupaten Kapuas Hulu kembali memfasilitasi pertemuan untuk membahas komoditi kratom. Kegiatan tersebut diadakan di Gedung DPRD Kapuas Hulu, Sabtu (27/7) pagi. Selain melibatkan jajaran Forkopinda Kapuas Hulu, kegiatan tersebut menghadirkan para petani kratom, asosiasi pengusaha kratom Indonesia, akademisi peneliti kratom, perwakilan Pemprov Kalbar, hingga lembaga pemerhati kratom SUNDA SHELF dari Amekerika Serikat.

Kegiatan tersebut dibuka, Pjw Sekda Kapuas Hulu, Abang Chairul Saleh. Dalam arahannya, Chairul menuturkan pertemuan lintas sektor dalam pembahasan kratom di Kapuas Hulu, ini adalah pertamakalinya. Kratom mulai jadi sorotan karena sedikit ada permasalahan yang harus diselesaikan bersama-sama, melibatkan berbagai stake holder. “Pemda Kapuas Hulu menyambut baik pertemuan ini, untuk kita sama-sama cari solusi terkait kratom,” tuturnya.

Chairul menjelaskan bahwa Kapuas Hulu memiliki potensi diberbagai sektor, salah satunya sektor perkebunan. Kemudian munculah Kratom yang merupakan tanaman hutan dan menjadi mata pencaharian masyarakat Kapuas Hulu saat ini, lantaran harga karet yang dulu jadi komoditi andalan sudah turun.

Pemda Kapuas Hulu sendiri sudah mengambil langkah-langkah terkait kratom, Bupati sudah bertemu dengan Korpasi Indonesia. Kemudian dari DPRD juga sudah mengunjungi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, terakhir Pemda Kapuas Hulu diwakili Pj Sekda, H. Sarbani, melakukan pertemuan di Solo. Saat itu PJ Sekda mempresentasikan tentang kratom yang ada di Kapuas Hulu. “Kami mengharapkan pertemuan ini memberi masukan-masukan yang kongkrit untuk sama-sama mengupayakan kratom ini bisa jadi usaha masyarakat,” paparnya.

Chairul menuturkan, saat ini kratom memang jadi mata pencaharian yang bisa menjanjikan keberlangsungan ekonomi yang baik, apalagi pangsa pasar hingga Amerika. Kendati demikian, kata Chairul, sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, apabila Pemerintah Pusat memasukan kratom sebagai barang terlarang maka harus juga disikapi dengan lapang dada. “Namun untuk saat ini, karena masih dalam penelitian, hal yang perlu dilakukan masyarakat petani kratom adalah menjaga kualitas produksi kratom, pengerjaannya harus khusus dan bersih. Kapuas Hulu sudah menjadi pengekspor terbesar komoditi kratom,sebab itu kita juga harus jaga kualitasnya,” ujar Chairul.

Sementara itu Ketua DPRD Kapuas Hulu, Rajuliansyah, menuturkan bahwa pihaknya intensif mendorong tentang komoditi kratom tersebut karena masyarakat Kapuas Hulu ada keresahan. Kratom sudah jadi pencaharian hari-hari di masyarakat Kapuas Hulu. “Sebagai kabupaten konservasi, masyarakat di Kapuas Hulu banyak keterbatasan dalam memanfaatkan hasil hutan. Saat ini kratomlah yang menjadi andalan untuk menunjang perekonomian,” tegasnya.

Rajuliansyah menilai, mata pencaharian masyarakat ini perlu diperjuangkan hingga ada kepastian hukum legal atau tidak legal. Perjuangan tersebut harus dilakukan bersama-sama, mulai dari masyarakat petani, pengusaha dan pemerintah. “Syukur disini ada penggiat kratom dari Amerika yang juga mau berjuang bersama-sama kita,” tegas Rajuliansyah.

Salah satu perwakilan dari lembaga peneliti kratom di Pontianak, dr Purwayanti, menjelaskan kajian di amerika belum komperhensif terhadap kratom, namun penggolongannya sudah masuk ke heavy drug (obat keras). Amerika memang menjadi acuan obat-obatan Indonesia saat ini. “Menurut saya tidak bisa sesuatu itu dihentikan seketika, sperti kratom ini. Kratom ini butuh uji klinis pada manusia guna memastikan apakah betul-betul terjamin, lalu uji Bio SA untuk melihat efek pada semua tubuh. Brikutnya ada juga uji anti mikroba, pemanfaatan ke kosmetik, obat anti diebetes dan lainnya. Semua uji tersebut lama waktunya,” paparnya.

Purwayanti juga menjelaskan terkait kratom Kalimantan Barat, khususnya dari Kapuas Hulu, user utamanya memang penduduk Amerika. Sebab itu petani kratom harus membuat produk kratom dengan mutu yang baik, sesuai standari klinis di Amerika. “Kami saat ini baru berjalan untuk penelitian kratom lebih lanjut. Kami juga buat buku tentang kratom agar bisa dipahami secara global,” tuntasnya.

Dalam pembahasan kratom di Gedung DPRD tersebut turut dihadiri SUNDA SHELF, lembaga penggiat kratom di Amerika Serikat. SUNDA SHELF diwakili oleh Tom Chapman dan memberikan sejumlah masukan, termasuk membocorkan bahwa telah menyiapkan seorang peneliti kratom di Amerika yang telah melakukan penelitian selama 20 tahun, apabila dibutuhkan untuk pertimbangan kebijakan Pemerintah di Indonesia. (yohanes)

Share Post: