RSUD dr. Achmad Diponegoro Putussibau Berikan Penyuluhan Tentang Cara Pencegahan DBD


RSUD dr. Achmad Diponegoro Putussibau, kembali menggelar penyuluhan kesehatan. Tema kali ini adalah tentang Demam Berdarah (DBD), yang disampaikan oleh dr. Stevanus E.N. Simanjuntak, dokter internship. Pada Senin (11/4), pagi di RSUD Putussibau.

Disampaikan oleh dr. Stevanus DBD adalah penyakit yang disebabkan infeksi virus dengue yang ditandai gejala panas 2-7 hari dan disertai/disusul gangguan hemostatik dan kebocoran plasma. DBD disebakan oleh virus dengue yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.

Aedes aegypt dapat dikenal melalui ciri-ciri warna hitam kecoklatan dengan dua garis melengkung vertical di bagian punggung. Tubuh dan kaki ditutupi sisik dengan garis berwarna putih keperakan. Hidup dan berkembang biak di air. Hinggap pada pakaian yang bergantung, kelambu dan ditempat gelap dan lembab. Menggigit di siang hari serta kemampuan terbang kurang lebih 100 m. Tanda dan gejala DBD adalah demam tinggi (38-40 0C) yang timbul mendadak selama 2-7 hari tanpa penyebab yang jelas.

Ditambah dengan gejala KLMNOP yaitu kepala nyeri, pusing, lemah, mual, muntah. Nyeri Otot dan sendi. Perdarahan (bercak merah atu mimisan). Tanda yang harus diwaspadai adalah demam turun tapi kesadaran anak memburuk. Nyeri perut menetap, muntah menetap, perdarahan mukosa, tidak atau sedikit BAK, akumulasi cairan dalam tubuh.

Penanganan awal pada DBD adalah berikan air minum yang banyak. Kompres dingin pada ubun-ubun, lipatan paha dan ketiak. Segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Pada saat demam mulai turun tidak selalu keadaan membaik, penderita mengalami masa kritis bila demam turun tetapi gejala KLMNOP semakin berat; lemah sampai kesadaran menurun, shock, perut sangat nyeri, dan perdarahan spontan.

Lakukan pencegahan DBD dengan cara fisik, melakukan 4M plus setidaknya seminggu sekali.  Menguras bak mandi, wadah minum burung, pot bunga, dan lain-lain. Menutup tempat penampungan air, kemudian mengubur wadah berpotensi sebagai tempat genangan air, serta memantau wadah air yang berpotensi sebagai pembiakan nyamuk. Plus tidak menggantungkan baju , tidur menggunakan kelambu, dan lain-lain. “Untuk pencegahan biologisnya dapat dilakukan dengan cara memelihara ikan pemakan jentik nyamuk seperti ikan kepala timah, ikan gupi, ikan cupang, dan lain-lain.

Kemudian bisa dilakukan dengan penanaman aneka tanaman di rumah lingkungan sekitar. Beberapa contoh tanaman yang dapat mengusir nyamuk dan cocok untuk lingkungan tropis. Tanaman seperti lavender, sereh, dan zodia. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan cara kimia. Yakni fogging atau penyemperotan menggunakan pestisida untuk membunuh nyamuk penyebab penyakit demam berdarah, malaria, dan zika. (rsud dr. achmad diponegoro putussibau)

Share Post: